Robi Navicula di Papua: Awas, Indonesia Rawan Bencana!
Robi Navicula di Papua: Awas, Indonesia Rawan Bencana!
Oleh Robi Navicula | Foto oleh: Robi Navicula & Endi 70’s OC
Indonesia yang indah permai ini ternyata menyimpan segudang bencana, seperti isi lagu “Supermarket Bencana” karya Navicula yang bakal dirilis di album kompilasi Siaga Bencana terbitan LIPI dan Electrified records (label milik band Naif).
Saya sendiri, selaku wakil band Navicula, bersama dengan team LIPI (Shena dan Atos) dan Metro TV(Wisnu Wardhana) melakukan kampanye Siaga Bencana Nasional ke Biak, Irian Jaya dari tanggal 22-27 Juli 2008. Pada kunjungan ke Biak ini saya juga ditemani Endi, drummer band indie asal Bandung, 70’s Orgasm Club.
Kampanye LIPI ini merupakan salah satu rangkaian kampanye ke sejumlah daerah di Indonesia, seperti Padang, Bengkulu, Cilacap, Ternate, Bali, Biak, dll. Program ini juga melibatkan sejumlah musisi untuk memberi pesan siaga bencana kepada masyarakat melalui media musik. Saya pikir ini adalah langkah yang bagus dan efektif mengingat musik adalah bahasa yang universal.

Di Biak, team kita membuat suatu kegiatan simulasi tentang bagaimana masyarakat menyiapkan diri apabila bencana terjadi. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan, dan siapa yang mengkoordinir masyarakat. Kegiatan simulasi ini sempat dibikin jadi satu film pendek oleh Wisnu (jurnalis Metro TV), dan langsung ditayangkan di hari penutupan workshop. Sangat menarik, melihat masyarakat berakting seolah-olah bencana gempa dan tsunami terjadi dan kemana mereka menyelamatkan diri. Rupanya masyarakat Biak (saat itu mengambil lokasi di desa Anggraidi dan Paray) jago akting! Mereka sangat menghayati peran sebagai masyarakat desa yang memang sedang dilanda bencana. Ini didukung dengan pengalaman mereka yang sebenarnya, dimana pada tahun 1996 daerah ini memang pernah terjadi gempa hebat. Pantas aja saat simulasi dilakukan, akting mereka lebih jago dari pemain sinetron (yang cuma jual tampang, jaim, dan bermake-up tebal walaupun adegannya lagi baru bangun tidur)!
Sehari sebelumnya, team kita yang juga terdiri dari para pelajar lokal yang telah dilatih oleh team Compress (Community Preparedness) LIPI (yang telah tiba di Biak beberapa hari lebih awal dari rombonganku), melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah untuk memberi penjelasan dan pengetahuan singkat mengenai bencana alam, khususnya Gempa dan Tsunami, serta langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan pada pra, saat dan pasca bencana. Asik banget berdiskusi dengan para murid sekolah ini, banyak becandanya!
Tanggal 25-26, kita mengadakan workshop dan sejumlah kegiatan lomba di gedung RRI setempat, mulai dari carnaval, lomba mading, lomba mewarnai untuk anak-anak dan pembagian materi siaga bencana berupa newsletter, brosur, dan paket buku secara cuma-cuma kepada para pengunjung. Sore hari hingga malamnya, ada juga panggung yang menampilkan band-band lokal setempat. Saya dan Endi bertugas menjadi juri untuk lomba carnaval, mading dan mewarnai (pekerjaan yang mengasikkan emang menilai dan mengkritik hasil kerjaan orang, hehe!) dan pada malam penutupan workshop kita ngejam bareng, membawakan beberapa buah lagu, antara lain lagu ‘Siaga Bencana’ yang secara spontan kita garap dan lagu baru yang kita ciptakan di hotel pagi hari itu, yang kita kasi judul ‘Papua’. Lagu sederhana agar mudah dipake nyanyi bareng. Alhasil… penonton bukan cuma ikutan nyanyi, tapi juga pada ikutan naik dan loncat-loncat di atas panggung sehingga saya jadi parno bahwa “bencana” beneran bakal terjadi, karena lantai panggung ini mulai melengkung akibat overload!
Di sela-sela kegiatan kita juga sempat mengunjungi beberapa tempat asik seperti pantai Bosnik. Endi girang banget, mungkin karena di Bandung ke pantainya jauh .. Selain itu kita juga melihat monumen perang dunia ke dua dan peninggalan-peninggalan perang dari serdadu-serdadu Jepang dan Amerika seperti bunker/gua dan foto-foto tua. Jelas terbayang seperti apa dulu tempat ini zaman PD II. Jadi ingat film Thin Red Line dan Letters From Iwo Jima. Memang… War sucks! Jadi heran juga hingga kini masih banyak bajingan bodoh yang masih melestarikan adat istiadat menghancurkan sesama manusia dan alam gara-gara ingin menguasai suatu sumber daya. Saya jadi berpikir lagi, bahwa kita memang harus menyelamatkan alam kita yang terpolusikan, menyelamatkan diri kita dari bencana, tapi lebih dari semua itu…. kita semestinya menyelamatkan diri dari diri kita sendiri!
* First published: September 11, 2008 on Musikator.com


Leave a Reply